Senin, 07 Januari 2013

BUDAYA MASYARAKAT RAJA AMPAT

Kebudayaan
Kebudayaan

Wilayah Kabupaten Raja Ampat merupakan suatu wilayah yang sangat unik dengan rangkaian pulau-pulau baik besar maupun kecil, yang sangat mempengaruhi baik keadaan bahasa dan penuturnya maupun juga budaya dan sistem sosial yang dianut oleh masyarakat di kawasan ini. Selain itu, kawasan ini merupakan daerah perbatasan antara kelompok-kelompok bahasa dan budaya di sebelah barat, yaitu kelompok bahasa dan budaya di Kepulauan Maluku dan kelompok-kelompok bahasa dan budaya di Papua. 
Dengan kondisi geografis, yang merupakan wilayah kepulauan dan wilayah paling barat dari rangkaian kepulauan pulau besar New Guinea, Kepulauan Raja Ampat menjadi daerah yang secara antropologis dan linguistis merupakan daerah yang mendapat sebutan keragaman (an area of diversity).  Istilah keragaman ini sangat tepat dipakai untuk menggambarkan situasi budaya dan bahasa yang merupakan perpaduan antara budaya dan bahasa asli Raja Ampat dengan budaya dan bahasa yang dibawa oleh pendatang-pendatang, baik dari wilayah lain di Papua maupun luar Papua.  Perpaduan budaya dan bahasa ini telah terjadi sejak berabad-abad lalu.
Penyebaran Bahasa-Bahasa di Raja Ampat
Dari survei yang dilakukan, bahasa-bahasa Raja Ampat dapat dikelompokkan sebagai berikut:
  1. Bahasa Ma’ya; yaitu bahasa yang digunakan oleh masyarakat suku Wawiyai (Teluk Kabui), suku Laganyan (Kampung Araway, Beo dan Lopintol) dan suku Kawe (Kampung Selpele, Salio, Bianci dan Waisilip). Mereka menggunakan satu bahasa yang terdiri dari beberapa dialek, yaitu dialek Wawiyai, Laganyan, dan Kawe.   
  2. Bahasa Ambel (-Waren); yaitu bahasa yang digunakan oleh penduduk yang mendiami beberapa kampung di timur Teluk Mayalibit, seperti Warsamdin, Kalitoko, Wairemak, Waifoi, Go, dan Kabilol, serta Kabare dan Kapadiri di Waigeo Utara.
  3. Bahasa Batanta. Bahasa ini digunakan oleh masyarakat yang mendiami sebelah selatan Pulau Batanta, yaitu penduduk Kampung Wailebet dan Kampung Yenanas.
  4. Bahasa Tepin. Bahasa ini digunakan oleh penduduk di sebelah utara ke arah timur Pulau Salawati, yaitu penduduk di Kampung Kalyam, Solol, Kapatlap, dan Samate, dengan beberapa dialek yaitu, dialek Kalyam Solol, Kapatlap dan Samate.
  5. Bahasa Moi.  Bahasa ini adalah bahasa yang digunakan oleh penduduk di Kampung Kalobo, Sakabu, dan sebagian Kampung Samate. Bahasa Moi yang dipakai di Salawati merupakan satu dialek bahasa Moi yang berasal dari daratan besar sebelah barat wilayah Kepala Burung, yang berbatasan langsung dengan Selat Sele.
  6. Bahasa Matbat. Istilah Matbat merupakan nama yang diberikan untuk mengidentifikasikan penduduk dan bahasa asli Pulau Misool. Orang asli Misool disebut orang Matbat dan bahasa mereka disebut bahasa Matbat. Penduduk yang merupakan penutur asli bahasa Matbat ini tersebar di Kampung Salafen, Lenmalas, Atkari, Folley, Tomolol, Kapatcool, Aduwei, dan Magey.
  7. Bahasa Misool. Sebutan ini diberikan oleh penduduk Misool yang berbahasa Misool sendiri. Bahasa Misool ini berbeda sekali dengan bahasa Matbat. Orang yang menggunakan bahasa Misool ini dipanggil dengan sebutan Matlou oleh orang Matbat, yang berarti orang pantai. Orang Misool yang menggunakan bahasa Misool pada umumnya beragama Islam, yang tersebar di Kampung Waigama, Fafanlap, Gamta,Lilinta, Yelu, Usaha Jaya, dan Harapan Jaya. Bahasa ini juga digunakan oleh beberapa kampung Islam di Salawati seperti Sailolof kampung Islam, dan Samate.
  8. Bahasa Biga. Bahasa ini adalah salah satu bahasa migrasi yang berada di sebelah tenggara Pulau Misool, yang digunakan oleh penduduk yang mendiami Kampung Biga di tepi Sungai Biga (Distrik Misool Timur Selatan). Penduduk dan bahasa ini diperkirakan bermigrasi dari Pulau Waigeo, yaitu dari Kampung Kabilol, yang berbahasa Ambel. Peneliti perlu mengadakan penelitian lanjutan untuk mengetahui apakah bahasa Biga memiliki kemiripan dengan bahasa Ambel. 
  9. Bahasa Biak. Bahasa Biak di Raja Ampat merupakan bahasa yang bermigrasi dari Pulau Biak dan Numfor bersamaan dengan penyebaran orang Biak ke Raja Ampat. Bahasa Biak ini dibagi menjadi beberapa dialek, yaitu Biak Beteu (Beser), Biak Wardo, Biak Usba, Biak Kafdaron, dan Biak Numfor. 
  10. Bahasa-bahasa lain. Dengan arus migrasi penduduk dari Kepulauan Maluku dan wilayah bagian barat lainnya, maka terdapat juga beberapa bahasa yang dipakai oleh penduduk pendatang di Raja Ampat seperti bahasa Ternate, Seram, Tobelo, Bugis, Buton, dan Jawa. Bahasa-bahasa ini merupakan bahasa-bahasa minoritas karena penuturnya tidak terlalu banyak. 
Lingua Franca di Raja Ampat
Sejarah Raja Ampat menunjukan bahwa bahasa Biak dan Melayu telah lama digunakan sebagai bahasa komunikasi sehari-hari antar suku di Raja Ampat, terutama di bagian utara wilayah Raja Ampat. Penggunaan bahasa Biak sebagai bahasa komunikasi sehari-hari (lingua franca) di kawasan ini ditunjang dengan penyebaran suku dan bahasa Biak yang dominan di wilayah pesisir dan pulau-pulau dari Pulau Waigeo di utara sampai ke Pulau Salawati dan Kofiau di selatan. Sedangkan bahasa Melayu Papua merupakan bahasa komunikasi yang paling umum dipakai dalam aktifitas setiap hari di wilayah Raja Ampat.
Dalam sejarah peradaban di Raja Ampat, bahasa Melayu Papua memainkan peran bukan saja sebagai bahasa pengantar yang digunakan setiap saat, tetapi juga untuk mempererat hubungan antar semua kelompok suku dan juga sebagai bahasa komunikasi dengan kelompok suku di wilayah lain di luar Raja Ampat. Sampai sekarang kedua bahasa ini masih digunakan sebagai lingua franca, meskipun bahasa Melayu Papua sangat dominan dibandingkan dengan bahasa Biak.
Klasifikasi dan Penyebaran Budaya di Raja Ampat
Kebudayaan masyarakat Raja Ampat dapat diklasifikasikan berdasarkan penyebarannya di pulau-pulau besar dan pulau-pulau kecil sekitarnya. Adapun klasifikasinya sebagai berikut:
  1. Pulau Waigeo. Pulau Waigeo dan sekitarnya didiami oleh beberapa suku atau sub suku yang dikelompokan ke dalam suku-suku asli dan suku-suku pendatang.

    A.  Suku Wawiyai (Wauyai) Kelompok suku Wawiyai merupakan kelompok suku yang mendiami wilayah sebelah utara Teluk Kabui di Waigeo Selatan. Dalam survei ditemukan bahwa suku ini hanya mendiami satu kampung yaitu Kampung Wawiyai. Namun, kelompok suku Wawiyai yang mempunyai garis keturunan langsung dengan sejarah Wawiyai adalah penduduk yang mendiami Pulau Friwen, yang disebut orang Wawiyai Man mon.

    B.  Suku Kawe Kelompok suku Kawe merupakan kelompok suku asli di Waigeo yang mendiami wilayah sebelah barat Pulau Waigeo. Kelompok suku ini bermukim di Kampung Salio, Selpele, Waisilip, dan Bianci. Kampung Selpele dan Salio masih merupakan daerah yang dominan dengan suku Kawe sedangkan Bianci dan Waisilip sudah merupakan kampung-kampung yang heterogen dan populasi orang Kawe sangat sedikit.

    C.  Suku Laganyan
    Kelompok suku Laganyan merupakan penduduk asli Pulau Waigeo yang mendiami tiga kampung di sekitar Teluk Mayalibit, yaitu Kampung Araway, Lopintol dan Beo.

    D.  Suku Ambel (-Waren)
    Wilayah Pulau Waigeo yang merupakan wilayah ulayat suku Ambel terletak di sebelah timur ke utara Teluk Mayalibit dan pantai utara Pulau Waigeo. Kampung-kampung yang merupakan daerah permukiman suku ini adalah Kabilol, Go, Waifoi, Wairemak, Kalitoko, dan Warsamdin (di Teluk Mayalibit), Kabare dan Kapadiri (di Waigeo Utara). Penduduk di Kampung Warsamdin di muara Teluk Mayalibit dan Kampung Kabare di Waigeo Utara telah bercampur dengan penduduk dari suku Biak.

    E.  Suku Biak Penduduk suku Biak merupakan penduduk yang bermigrasi ke Kepulauan Raja Ampat dari Pulau Biak dan Numfor di wilayah Teluk Cenderawasih (Teluk Geelvink), sebelah timur dari Kepulauan Raja Ampat.  Mereka bermigrasi dalam beberapa periode waktu dan sejarah, bermula dari pelayaran hongi dan pembayaran upeti kepada Sultan Tidore/Ternate, kemudian disusul dengan perjalanan kelompok suku Biak mengikuti arah perjalanan Koreri (Manarmaker) dalam legenda kepercayaan tradisional orang Biak.  Migrasi yang terakhir diperkirakan terjadi pada tahun-tahun akhir pemerintahan Belanda (sekitar tahun 1950-an).  Penduduk suku Biak pada umumnya mendiami wilayah pesisir pantai dan pulau-pulau di Waigeo, yaitu seluruh Kepulauan Ayau (Kampung Dorekar, Yenkawir, Meosbekwan, Rutum dan Reni), Waigeo Utara (Kampung Rauki, Bonsayor, Kabare, Andei, Asukweri, Boni, Warwanai, dan Mnier), Waigeo Timur (Kampung Puper, Yenbekaki, Urbinasopen, Yensner), Waigeo Selatan (Kampung Saonek, Saporkren, Yenbeser, Yenwaupnor, Sawinggrai, Kapisawar, Yenbuba, Yenbekwan, Sawandarek, Kurkapa, Arborek, Kabui). Di wilayah Waigeo Barat, penduduk suku Biak mendiami kampung-kampung seperti, Bianci, Mutus, Meos Manggara, Manyaifun, Safkabu dan Fam di Kep. Fam. Juga, suku Biak tersebar sampai ke Pulau Gag. Kelompok suku Biak ini dibagi lagi menjadi beberapa sub suku, yaitu Biak Beteu (Beser), Biak Wardo dan Biak Usba.

    F.  Suku-suku lain
    Kelompok suku lain yang secara historis mempunyai hubungan dengan Raja Ampat adalah kelompok suku Tidore, Ternate, Seram dan suku lain di Kep. Maluku. Kelompok yang bermigrasi kemudian adalah kelompok suku Bugis dan Buton, diikuti oleh Jawadan lain-lain.;
  2. PulauBatanta   

    A.  Suku Batanta
    Kelompok suku ini diperkirakan merupakan penduduk asli Pulau Batanta. Suku Batanta mendiami wilayah selatan Pulau Batanta yaitu Kampung Wailebet dan Yenanas yang terletak di Selat Sagawin berhadapan dengan Pulau Salawati.
     
    B.  Suku Biak
    Mayoritas penduduk di bagian utara ke arah timur Pulau Batanta berasal dari suku Biak.  Penduduk di hampir seluruh kampung-kampung di wilayah ini berbahasa dan berbudaya Biak.  Kampung-kampung tersebut adalah Yensawai, Arefi, Amdui dan sebagian Yenanas. Kelompok suku Biak di Batanta ini disebut Biak Kafdaron. Secara historis, orang Biak Kafdaron adalah kelompok yang bermigrasi ke Pulau Batanta mengikuti jejak perjalanan legenda Koreri (Mansar Manarmaker) dari Pulau Biak ke arah barat.

    C.  Suku-suku lain

    Kelompok suku lain yang bermukim di Pulau Batanta berasal dari pulau besar New Guinea dan Maluku, tetapi populasinya tidak banyak kecuali mereka yang bekerja pada perusahaan siput dan pegawai pemerintah.
  3. Pulau Salawati

    A.  Suku Tepin
    Suku Tepin merupakan suku asli Salawati yang mendiami pesisir utara Pulau Salawati. Mereka mendiami Kampung Kalyam dan Solol di Selat Sagawin. Bahasa yang digunakan disebut bahasa Tepin.  

    B.  Suku Fiat, Domu, Waili dan Butlih
    Kelompok suku-suku ini adalah kelompok suku-suku kecil yang merupakan suku-suku asli Pulau Salawati, yang mendiami daerah Samate, Kapatlap, Kalobo dan Sakabu. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Tepin dengan variasi dialek di setiap suku. Meskipun demikian, setiap suku menyebut bahasa mereka menurut nama suku mereka.

    C.  Suku Moi (Moi-Maya)
    Kelompok suku Moi, atau sering disebut dengan istilah Moi-Maya atau Moi-Pantai yang mendiami sebelah timur Pulau Salawati diperkirakan bermigrasi dari dataran besar Kepala Burung sebelah barat, yang merupakan wilayah suku Moi. Hal ini sangat mungkin karena wilayah timur Pulau Salawati ini berhadapan langsung dengan dataran Kepala Burung itu dan hanya dibatasi oleh Selat Sele. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Moi.

    D. Suku-suku Lain
    Kelompok suku lain yang mendiami Pulau Salawati adalah suku-suku pendatang seperti suku Biak, Jawa, Ternate, Tidore, Tobelo, Seram, Bugis dan Buton. Mereka tersebar di kampung-kampung di Pulau Salawati seperti Kalyam, Solol, Samate, Kapatlap, Kalobo dan Sakabu.
  4. Pulau Misool

    A.  Suku Matbat

    Suku Matbat merupakan suku asli Pulau Misool, yang pada awalnya mendiami daerah pegunungan.  Mereka diperkirakan turun dan membuat perkampungan di wilayah pesisir pada masa pemerintahan Belanda sekitar tahun 1940-1950. Mata pencaharian mereka adalah bercocok tanam dan meramu sagu. Tetapi sekarang telah terjadi pergeseran mata pencaharian.  Mereka mulai menjadi nelayan meskipun bukan sebagai mata pencaharian utama. Kelompok suku Matbat ini dapat ditemui di Kampung Salafen, Atkari, Lenmalas, Folley, Tomolol, Kapatcool, Aduwei, dan Magey. 

    B.  Suku Misool
    Kelompok suku Misool adalah kelompok suku yang bermigrasi ke Pulau Misool sekitar 100 tahun lalu dan merupakan kelompok suku yang telah mengalami percampuran etnis sekian lama sehingga membentuk suatu komunitas suku dengan identitasnya sendiri. Kelompok ini diperkirakan berasal dari Pulau Waigeo, yang oleh beberapa ahli disebut dengan kelompok suku Maya baik orang maupun bahasanya, tetapi mereka juga telah mengalami percampuran dengan kelompok suku dari Kepulauan Maluku seperti Seram, Tobelo, Tidore, dan Ternate. Hal ini dapat dilihat dari bentuk fisik penduduk suku ini, dan juga dari sejarah suku Misool sendiri. Orang Matbat memanggil orang dari suku Misool dengan sebutan Mat Lou, yang berarti ‘orang pantai’. Bahasa yang digunakan disebut bahasa Misool. Kampung-kampung yang merupakan tempat tinggal suku Misool adalah Waigama, Lilinta, Fafanlap, Gamta, Yellu, Harapan Jaya, Usaha Jaya. Pada umumnya perkampungan suku Misool sedikit lebih besar dari perkampungan suku Matbat dan jumlah penduduknya juga sedikit lebih banyak dari jumlah penduduk perkampungan suku Matbat.

    C.  Suku Biga
    Suku Biga adalah satu kelompok suku yang berasal dari Waigeo yang bermigrasi ke Pulau Misool. Kelompok suku ini mendiami Kampung Biga di pinggiran Sungai Biga, yang berarti ‘tempat sagu’.
     
    D.  Suku Biak
    Suku Biak yang mendiami beberapa kampung di Pulau Misool adalah suku Biak dari sub suku Biak Beteu (Beser). Mereka mendiami Kampung Pulau Tikus, Solal, Wejim dan Satukurano. 

    E.  Suku-suku lain
    Suku-suku lain yang mendiami pulau Misool adalah pendatang dari Seram, Tobelo, Ternate, dan Tidore. Selain itu, pendatang baru di pulau ini adalah penduduk dari Buton, Bugis, Ambon, Jawa, dan lain-lain. 
  5. Pulau Kofiau.

    Distrik Kofiau yang terdiri dari beberapa pulau umumnya dihuni oleh penduduk dari suku Biak, sub Suku Biak Beteu (Beser).  Suku ini mendiami Kampung Deer, Dibalal dan Tolobi.
Hubungan Bahasa dan Budaya
Bahasa dan budaya adalah dua unsur integral yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan setiap orang. Setiap orang, mau tidak mau, dilahirkan dalam lingkungan suatu bahasa dan budaya tertentu. Setiap suku di Raja Ampat cenderung menyatakan identitas suku dan bahasa mereka sesuai dengan nama kelompok suku tersebut. Satu contoh, setiap kelompok suku berusaha menyebutkan bahasa yang digunakan dengan nama suku tersebut, meskipun di sisi lain mereka menyatakan bahwa bahasa yang mereka gunakan juga dipakai di kampung lain atau di pulau lain. Fenomena ini merupakan hal biasa.  Setiap suku selalu berusaha mengidentifikasi keberadaan mereka kepada kelompok lain sehingga jati diri mereka juga diakui dan dihargai oleh kelompok lain.
Kelompok-kelompok suku di Raja Ampat juga selalu selalu menamakan wilayah mereka menurut bahasa mereka sendiri. Di Raja Ampat ditemukan bahwa sebuah tempat, baik itu gunung, tanjung, teluk, pulau dan lainnya, memiliki nama yang berbeda-beda menurut kelompok suku yang tinggal di sekitar wilayah itu. Satu contoh adalah penamaan pulau-pulau di wilayah Waigeo. Nama yang tertulis dalam peta dan juga yang dipakai sekarang oleh masyakarat di kawasan ini, berasal dari bahasa Biak. Akan tetapi, penduduk asli seperti orang Wawiyai yang mempunyai hak ulayat di wilayah Waigeo Selatan, menyebut pulau-pulau tersebut dengan nama tersendiri sesuai dengan bahasa mereka.
Situasi yang sangat menarik terlihat pada bahasa dan budaya di sekitar Teluk Mayalibit, Pulau Misool dan Pulau Friwen. Bagian dalam Teluk Mayalibit didiami oleh dua kelompok suku yaitu suku Laganyan di bagian barat dan suku Ambel di bagian timur ke utara. Orang Laganyan bermukim di tiga kampung yaitu Araway, Beo dan Lopintol sedangkan orang Ambel mendiami kampung-kampung seperti Kabilol, Go, Waifoi, Wairemak, Kalitoko dan Warsamdin. Kedua suku ini secara linguistis dan antropologis berbeda, meskipun secara geografis perkampungan mereka tidak terlalu jauh satu sama lainnya. Tetapi tiga kampung Laganyan ini adalah kampung Islam, disini telah terjadi percampuran kebudayaan antara kebudayaan Laganyan dan Islam, terutama menyangkut nilai-nilai, norma-norma, dan kebiasaan hidup.  Sedangkan kelompok suku Ambel adalah penganut ajaran Kristen.  Ajaran agama Kristen juga telah mempengaruhi unsur-unsur budaya Ambel terutama pola pikir, nilai-nilai dan norma-norma serta kebiasaan hidup. Hal yang sama terjadi di Pulau Misool. Seluruh perkampungan suku Matbat masih menunjukan ciri-ciri perkampungan asli Papua sebagaimana yang terlihat di Kampung Magey dan Aduwei. Sedangkan mayoritas perkampungan suku Misool telah mencirikan perkampungan yang hampir sama dengan ciri-ciri perkampungan di luar Papua, seperti di Kepulauan Maluku dan juga di Sulawesi.
 Type rumah Suku Misool di Waigama (Foto: Ucu Sawaki).



Type rumah Suku Matbat di Kampung Magey (Foto: Ucu Sawaki)



Type rumah Suku Biga di Sungai Biga (Foto: Ucu Sawaki)

Seluruh orang dari suku Misool beragama Islam dan telah lama meninggalkan sebagian adat dan kebiasaan suku. Sedangkan orang Matbat mayoritas beragama Kristen dan masih mempertahankan adat istiadat mereka. Sebagaimana telah dijelaskan, bahasa yang digunakan oleh kedua penganut kebudayaan yang berbeda ini, juga berbeda. Semua orang dari suku Misool menggunakan bahasa Misool dan seluruh orang Matbat menggunakan bahasa Matbat. Penduduk Matbat di lain pihak dapat menggunakan bahasa Misool untuk berkomunikasi dengan suku tetangga mereka ini, tetapi orang Misool tidak dapat menggunakan bahasa Matbat. Orang Biga dari suku Biga juga mencirikan pola perkampungan, mata pencaharian dan kebiasaan hidup lainnya yang sama dengan orang Matbat, yaitu mirip dengan kebudayaan Papua.  Meskipun demikian, kebudayaan Biga dan Matbat berbeda di banyak segi.  Bahasa kedua suku ini juga sangat berbeda.

Kelompok masyarakat yang mendiami Pulau Friwen, sebagaimana telah dijelaskan, adalah contoh tentang suatu keadaan di mana kebudayaan dominan, dalam hal ini kebudayaan Biak, mempengaruhi kebudayaan minoritas, kebudayaan Wawiyai. Penduduk Friwen adalah suku Wawiyai dari keturunan Wawiyai Man mon. Mereka telah mengalami suatu perubahan budaya dan bahasa sehingga sekarang kebudayaan mereka didominasi oleh kebudayaan dan bahasa Biak. Hal-hal ini terjadi selain karena sejarah suku Wawiyai yang berada di Friwen, juga karena faktor-faktor ekonomi dan sosial. Yang menjadi sangat menarik adalah Kampung Friwen berjarak tidak terlalu jauh dari Kampung Wawiyai, satu-satunya kampung orang Wawiyai di utara Teluk Kabui dan merupakan kampung asal orang Wawiyai Friwen.  Tetapi orang Wawiyai di Kampung Wawiyai masih menggunakan bahasanya dengan fasih dan menjaga kebudayaan mereka dengan sangat baik.
Fenomena hubungan bahasa dan budaya di Kepulauan Raja Ampat sangat menarik karena Raja Ampat merupakan tempat dimana beberapa kebudayaan dan bahasa bertemu dan saling mempengaruhi. Ada kelompok suku yang tetap mempertahankan budaya dan bahasanya, ada juga yang menggabungkannya, dan ada yang sama sekali beralih ke kebudayaan dan bahasa kelompok suku lain.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar